Ketahui Mitos Dan Fakta Serta Bagaimana Bertindak Tepat Saat Anak Sakit

Suka bingung gak sih kita sebagai orang tua dalam mengambil tindakan di saat anak sedang sakit? Apalagi bila sakitnya perlu penanganan cepat dan kita sedang sendiri bersama anak di rumah. Jangankan sakit yang aneh-aneh, sakit disertai demam saja saya terkadang bingung untuk mengambil keputusan yang tepat secara sekarang banyak penyakit aneh-aneh dan sedang marak wabah macam-macam.

Jadi ingat waktu si Dunant baru lahir. Anak pertama kannn. Saya hampir tiap minggu visit ke dokter loh! Beneran! Lebay? Gak tau juga ya. Well, si Dunant memang waktu tiga bulan pertama ada kasus khusus. Tapi setelah itu, saya masih tetap sering banget ke dokter anak. Sedikit-sedikit bingung tindakan yang sebaiknya diambil apa. Karena bila hanya mengandalkan browsing internet, pengalaman dari ibu saya, atau “kata orang”, rasanya kredibilitasnya belum cukup bisa diandalkan bagi saya.

Browsing di internet tentu perlu dipertanyakan source-nya dari mana, belum lagi banyak penyakit yang mirip-mirip yang membuat saya bingung. Pengalaman ibu saya belum tentu akurat juga, karena bagaimana pun ibu bukan dokter yang pengetahuannya hanya sebatas pengalamannya saja. Apalagi berdasarkan “kata orang”. Tahu sendiri kan kalau banyak sekali mitos-mitos di luar sana yang bahkan orang-orang di sekitar dan kita sendiri bingung mana yang benar dan tidak.

Pernah waktu itu saya sampai bawa Dunant ke UGD di salah satu rumah sakit swasta ternama. Saat itu Dunant berusia sekitar satu tahun lebih beberapa bulan. Tiba-tiba dia muntah-muntah banyak sekali dan sering hingga lemas tidak bergerak. Sebagai ibu yang mengalami kejadian ini untuk pertama kalinya hampir dipastikan bingung dong. Untungnya waktu itu saya ingat Dunant memiliki stok obat mual. Jadi saya berikan dia obat mual tersebut sebelum kemudian saya bawa lari ke UGD. Kondisi waktu itu sudah cukup malam dan semua dokter anak penuh. Dannn apa yang terjadi di UGD?

Ok, itu kali pertama saya ke UGD. Saya tidak tahu apakah beda rumah sakit memiliki prosedur yang sangat berbeda. Kondisi di UGD tersebut cukup memusingkan bagi saya. Ramai sekali! Ruangannya cukup besar dan mereka bertindak berdasarkan tingkat kedaruratan pasien. Anak saya termasuk yang tingkat kedaruratannya tidak kritis. Alhasil, saya menunggu di sana cukup lama, sekitar 2-3 jam. Itu pun saya akhirnya meminta untuk dokter anak yang telah selesai praktek turun ke UGD.

Jadi selama menunggu, saya beri terus ASI: dari lemas tidak bergerak hingga akhirnya ada sedikit tenaga untuk duduk. Ujung-ujungnya dikasih obat mual dan panas oleh dokter anak yang memeriksa yang mana di rumah pun saya juga sudah berikan. Dalam perjalanan pulang, Dunant tertidur lelap, kecapekan karena tidak bisa tidur di rumah sakit. Besoknya saya pergi ke dokter anak langganan untuk memastikan semua baik-baik saja.

Inti dari sharing di atas menunjukkan bahwa kerap kali para ibu panik ketika anak menunjukkan gejala penyakit. Untungnya saat itu memang tindakan pertama saya sudah benar, tapi sangat memungkinkan bila ada hal lain terjadi dan saya blank tidak tahu harus melakukan tindakan pertama apa.

Kita sebagai ibu (atau ayah) muda juga tak jarang menerapkan ajaran orang tua yang diyakini sebagai sesuatu yang jitu yang sudah berlaku turun temurun. Pernah saya sangat mempertanyakan satu hal karena informasi yang didapatkan dari ayah saya. Sebelum cerita lebih lanjut, saya selalu menganggap ucapan ayah memiliki kredibilitas yang tinggi karena pengetahuannya yang luas dan biasanya tidak serta-merta mengatakan suatu hal tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Tapi ternyata dengan adanya mitos-mitos di sekitar lingkungan, informasi kesehatan menjadi lebih membingungkan.

Selain itu, sudah menjadi hal yang sangat biasa juga untuk kita bertanya ke kerabat atau teman-teman yang lebih berpengalaman soal anak. Padahal, informasi tersebut belum tentu tepat, bahkan tidak menutup kemungkinan akan semakin memperparah penyakit si anak.

Saya termasuk salah satu ibu yang beruntung karena dapat menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Halodoc yang bekerjasama dengan The Urban Mama. Pada acara tersebut, kami membahas “Mitos dan Fakta Seputar Penyakit Pada Anak” dengan salah satu dokter spesialis anak. Berikut saya share ilmu yang telah saya dapat.

Tentu kita pernah mendengar mengenai bagaimana sejumlah orang yang percaya bahwa kopi dapat mengatasi kejang. Pada faktanya, kejang pada anak di bawah usia empat tahun biasanya diakibatkan oleh demam tinggi atau faktor penyebab lainnya seperti sejumlah virus atau indikasi penyakit lain. Sebagian besar kejang demam dialami bayi usia enam bulan hingga lima tahun. Memberikan kopi kepada anak sangat tidak disarankan karena metabolisme tubuhnya belum sempurna. Ekskresi kafein pada anak lebih lambat, sehingga efeknya juga bekerja lebih lama di tubuh.

Selain itu, banyak juga yang memercayai bahwa saat kita panas tinggi, kita harus diberi selimut tebal dan mengompres dengan air dingin (atau es). Sering lihat juga kan di serial kartun di mana anak yang sedang demam dikompres es di kepalanya? Saya dan banyak dari kerabat saya yang termasuk korban dari mitos yang beredar mengenai panas tinggi ini. Tujuan seseorang diselimuti saat panas tinggi adalah agar berkeringat, dengan begitu panas keluar dari tubuh. Sementara ternyata, kompres air dingin dapat menutup pori-pori dan menghambat berpindahnya suhu tubuh. Jadi, sangat disarankan untuk anak dikompres dengan air hangat justru. Terlebih lagi di bagian yang panasnya susah keluar seperti sekitar lekukan tubuh.

Siapa dari kita yang pernah mimisan lalu orang tua menyuruh kita mengadahkan kepala ke atas atau memberikan daun sirih agar mimisan berhenti? Mimisan umum terjadi pada anak-anak di bawah usia 10 tahun. Hal ini disebabkan karena lapisan pembuluh darah anak lebih rapuh dan mudah pecah sehingga anak-anak lebih sering mengalami mimisan dibandingkan orang dewasa. Mendongakkan kepala ke atas saat mimisan justru berbahaya karena dapat menyebabkan darah yang keluar dari hidung masuk ke saluran pencernaan maupun pernapasan. Daun kapur sirih juga dipertanyakan kebersihannya, maka lebih bijak untuk menggunakan tissue untuk menekan bagian hidung yang lunak (bukan dimasukkan) untuk menghentikan pendarahannya.

Itu sebabnya, seperti #katadokterHalodoc yang salah satunya adalah dr. Herlina, Sp.A, bahwa peran dokter atau ahli medis dibutuhkan dalam memberikan kenyamanan kepada para ibu baik saat penanganan maupun konsultasi. Berkonsultasi dengan ahli medis merupakan tindakan pertama yang tepat, sehingga ibu tahu apa yang perlu dilakukan sebelum terlambat karena penanganan yang salah. Dengan saran ahli medis serta tindakan yang benar saat menangani anak ketika sakit, anak dapat pulih dalam kondisi yang cepat.

Lagi-lagi saya sangat beruntung mengikuti acara ini. Saya jadi mengenal sebuah aplikasi yang menurut saya wajib banget dimiliki semua ibu. Aplikasi tersebut namanya “Halodoc”. Kenapa wajib? Melalui aplikasi Halodoc, kita dapat berkonsultasi langsung dengan dokter melalui video call KAPAN PUN! Iya, kapan pun yang artinya 24 jam. Jadi kita bisa menghubungi dokter melalui aplikasi tersebut di tengah malam sekali pun. Tim medisnya ada dari dokter umum, spesialis anak, internis, hingga dokter mata.

Selain itu, aplikasi ini juga memiliki fitur “Pharmacy Delivery” yang memiliki layanan apotik antar 24 jam dan bebas biaya pengantaran. Jadi, dokter Halodoc dapat membuat resep dan kita dapat memesan obat langsung melalui fitur ini. Fitur lain yang tidak kalah canggihnya adalah fitur “Labs”. Melalui fitur Labs ini, kita dapat meminta petugas lab Prodia datang ke rumah atau kantor untuk melakukan pengecekan kesehatan seperti cek darah atau urine. Saat ini, fitur Labs dapat dimanfaatkan oleh pengguna di sekitar Jakarta Pusat dan Selatan.

Terdapat juga artikel-artikel yang bermanfaat dan tidak usah dipertanyakan lagi kredibilitasnya karena dicek langsung oleh dokternya di www.halodoc.com. Atau juga sharing mereka di Instagram @halodoc atau Facebook @HalodocID ya. Semoga bermanfaat ya!

Love,

Mom of Little Dunant

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 3 =