Syukuri Punya Anak Berkemauan Keras. Kenapa?

Little Dunant (saat ini 2 tahun) termasuk anak yang berkemauan keras. Dia sangat aktif dan bersemangat, banyak mempertanyakan status quo, dan terus-menerus menguji batasan dalam situasi apapun. Dan itu sangat melelahkan bagi saya.

Harus saya akui, dia memiliki standar tinggi. Banyak hal-hal kecil yang tidak bisa diterima seadanya oleh anak ini: cara dirinya didekap untuk tidur, sabun yang salah, kaus kakinya terasa sedikit aneh, atau tekstur makanan yang sedikit berbeda. Dia selalu memberitahukannya bila ada sesuatu yang tidak dia setujui atau berkenan.


Anak ini bukan anak bermasalah. Dia sensitif dan senang berbagi. Dia juga penyayang dan peduli kepada sekitarnya. Kalau pernah liat di Instagram saya, ada salah satu foto di mana ia sedang menyuapi sepupu kecilnya. Itu datang dari diri dia sendiri. Dia dapat mengerti dan menerima bila memang menurutnya masuk akal. Tapi bila tidak… saya benar-benar bisa kewalahan dan sangat butuh bantuan.

Laura Markham, seorang psikolog klinis di Universitas Columbia, menjelaskan bahwa anak berkemauan keras (mereka yang digambarkan sebagai orang yang bersemangat, keras kepala, atau liar) biasanya memiliki motivasi dari dalam diri sendiri dan sering kali tumbuh menjadi pemimpin nantinya. Mereka ingin belajar sesuatu sendiri daripada menerima apa yang orang lain katakan. Maka dari itu, mereka selalu menguji batasan.

Saya pun sempat mendapatkan parenting tips untuk menghadapi anak seperti ini melalui salah satu metode yang saya percaya baik, yaitu disiplin positif. Bisa dibaca sendiri di sini ya. 

Saya tidak mengatakan dengan membaca artikel di atas semua masalah maka terselesaikan. Karena saya sudah menerapkan hal tersebut selama yang saya ingat dan tetap saja merasa tertantang setiap kali berhadapan dengan si kecil. Tapi  hal tersebut sangat membantu saya dalam keseharian menghindari argumentasi panjang yang dapat saja terjadi setiap menitnya. Saya merasa bila saya lengah dan lupa menerapkan metode tersebut, maka SAYA DALAM MASALAH BESAR! 

Quote di foto awal membantu mengingatkan saya untuk terus berjuang dan sabar. Untuk terus konsisten terhadap apa yang saya percayai agar kelak tidak menyesal. Bahwa kitalah yang dewasa yang sudah seharusnya lebih bisa mengendalikan emosi dan tidak ikut dalam “permainan” si anak.

Selain itu, hal lain yang membuat saya tetap positif adalah tidak terlalu memusingkan hal-hal kecil. Terdengar simpel ya. Mirip-mirip dengan “don’t sweat the small stuff” tapi menurut saya, pengalaman menerapkan degan pasangan dan anak sangatlah berbeda! 

Saya juga dituntut untuk berpikir kreatif dalam urusan tawar-menawar. Yang ini tantangan banget bagi saya. Anak ini bisa naik banding terus kalau saya kalah kreatif. 

Untuk para orang tua lain yang merasakan hal serupa, saya tahu ini hal yang sulit sekali. Saya merasakan hal yang serupa. Kadang saya merasa setengah gila. Belum lagi nanti saat puber ya! Tapi ingatlah selalu bahwa kita ingin anak kita tumbuh menjadi pribadi yang independen yang dapat memutuskan tindakan yang tepat untuk dirinya. So hanging there and stay loose! (Yes, I am talking to myself)

Bagaimana dengan moms atau dads lainnya? Akan sangat membantu loh sharing nya ?

Love,

Mom of Little Dunant

Comments

    1. Post
      Author
      mom

      Hi! Salam kenal juga! Iya anakku juga ngarahnya ke tipe koleris nih. Tapi ya begitu, setelah aku baca ternyata berkemauan keras ini salah satu tipe yang nanti dewasanya cocok untuk menjadi pemimpin. Sekarang sih kewalahan ya kita hahaha. Tapi kalau anakku dengan disiplin positif di sini sih sangat membantu meskipun ya gak 100% ya. Namanya juga parenting ya hahaha.

  1. April Hamsa

    Anak2ku tipe yg kayak gtu jg mak.
    Berkemauan keras. Kalau blm dituruti dia akan minta terus. Maksudku bukan dalam hal minta jajan atau mainan ya, mereka gk trlalu ngotor soal hal itu.
    Tapi soal yg kecil2 seperti minta ambilin air, minta disisirin rambutnya, mereka gk bisa dengar kata “tunggu” maunya “harus” huwaaa.
    Ibunya kudu pinter2 bikin peawaran apalagi pas lg sibuk hehe

    1. Post
      Author
      mom

      Betul banget mba! Harus kreatif juga merespon si anak ya? Kadang kalau sudah kehabisan ide aku diemin dulu daripada ikutan stress (buka aib) hihihi. Nanti kadang anaknya lebih sedikit kalem mulai diajak ngobrol lagi. Tapi aku memang agak strict sih orangnya. Jadi kalau itu berhubungan dengan kebutuhan utama atau mendesak biar dia merengek, aku biasanya tegasin terus. Dan setelah konsultasi dengan salah satu psikolog memang baiknya begitu karena anak harus bisa belajar menunggu. Ehh lama-lama ternyata dia ngerti juga (atau lebih ke nyerah gak ada guna ya) 😀

  2. Herva Yulyanti

    Ilmu parenting seenggaknya bisa membantu mencarikan beberapa alternatif solusi yang kita hadapi meski pada realnya kita sebagai ortu yang harus tahu bagaimana langkah tepat untuk mendidik anak y mba 🙂

    1. Post
      Author
      mom

      Betul bangettt!!! Setiap anak kan unik ya. Kita juga pasti punya trik untuk menghadapinya yang menurut kita paling jitu hihihi

  3. Fanny Fristhika Nila

    Anakku yg cowo nih… Kalo yg cewe lebih anteng, lbh nurut lah. Tapi kalo yg cowo, kliatan lbh mau mandiri, apapun yg diminta sebisa mungkin harus cepat wkwkwkwkw.. Dan kalo dibilang tunggu sebentar, dia bakal nyebarin semua buku2nya di lantai sebagai tanda protes :D. Iya sih, aku udh dinasehatin ama mamaku jg mba, kalo ini anak lbh keras, jd cara didiknya hrs beda dr mbak nya.. Ga bisa cm dilarang tapi tanpa dijelaskan.. Hrs lebih sabar juga :D. Krn takutnya, semakin kita ga sabaran, dia jg tumbuh makin ga sabar dan ga terkontrol..

    1. Post
      Author
      mom

      Iya bener banget mba. Anakku klo tanpa alasan malah protes. Harus extra sabar dan kreatif sih. Kalau kita sudah ketemu celahnya, lebih mudah dikit lahh ahahhaa. Tapi artikel di link banyak membantu aku sih. Semangat yaaa! Inget aja quotes nya biar semangat terus ???

  4. Tietien

    Hai mba…
    Terima kasih pencerahannya
    Anakku masi baby 10mo
    Doi juga gak mau nunggu walaupun utk mw pipis
    Doi pasti nangis kejer
    Seringkali juga pas sy makan saat dy main lgsg dtgin dan minta digendong
    Jadi berasa kebutuhan utama sy agak sulit dilakukan
    Step by step ngajarin anak utk bs menunggu gmn yah mb?
    Ini penting bgt bt saya karna cm be2 saja dirumah saat ayahnya kerja…

    1. Post
      Author
      mom

      Pertama2 mau kasih penjelasan dulu ya bahwa aku bukan psikolog profesional. Jadi jawaban yang aku kasih berdasarkan antara pengalaman, mendengar sharing dari ibu lain, atau membaca. Hehehe. Dulu anakku juga begitu mba. Samaaa!! Selain part pipis ya karena sampai detik ini belum di toilet train.

      Aku coba bantu jawab di sini ya. Kalau menurut pengalaman dan yang saya baca ada dua hal mba. Tapi harus trial and error ya. Pertama, ada yang mengatakan memang kebutuhan anak akan kasih sayang kita itu tidak mengenal waktu dan tempat. Intinya, dia memang butuh belaian kasih sayang kita saja. Coba deh melihat dari kacamata si anak, Rasanya anak usia 10 bulan belum cukup mengerti ya bila ada kebutuhan2 utama ibunya yang harus dipenuhi. Yang dia tau kalau “aku mau ibuku”.

      Kalau dulu, sebelumnya pastikan kebutuhan anak semua sudah terpenuhi ya (aman dan nyaman: tidak lapar, ngantuk, dsb). Terus aku antara kasih mainan yang dia asyik bermain atau taruh di high chair sebelahku dan kasih mainan/buku (dia sudah terbiasa duduk di high chair dari kali pertama mpasi jadi duduk di high chair gak masalah).

      Kalau gak mempan, bila memungkinkan, pangku si anak sambil makan? Setiap hari pasti gak ada yang sama hasil dan usaha yang aku lakuin. Aku juga membiarkan dia selalu bebas explore tanpa sedikit2 “awas” atau “jangan”. Itu membantu si anak jadi lebih nyaman dengan lingkungannya dan percaya diri. Membantu dia belajar mandiri.

      Kedua, saat anaknya sedang kalem (anakku paling efektif pas nenen), aku omongin pelan-pelan. Kalau mamanya perlu makan juga, kalau tidak gak ada tenaga untuk gendong kamu. Dan lain2 sampai capek juga kok ngomongnya. Tapi sedikit demi sedikit dia mengerti.

      Baru beberapa bulan terakhir ini akhirnya dia benar-benar membiarkan aku melakukan rutinitasku tanpa diganggu atau rengekan lho. Dan anakku sekarang usia 28 bulan. Sebelummya dia memang sudah mulai mengerti, tapi selalu ada upaya coba-cobanya. Jadi pas lebih besar ini (sejak sekitar 1,5thn kayaknya aku agak lupa) aku konsisten bilang “gak bisa (kenapa dijelaskan)”.

      Jadi waktu bayi kalau ke kamar mandi sgala ya aku bawa dia juga duduk di high chair dia sibuk main atau baca2. Waktu bayi dia ada mainan dan buku2 favorit yang membuat dia lumayan anteng beberapa menit. Ya saya memang harus melakukan segalanya serba kilat ya hahaha.

      Sekadar sharing, iparku anaknya juga clingy banget. Dia bahkan gak mau dilepas sama sekali hingga usia 6-7 bulan. Jadi itu ibunya pakai baby carrier kapan dan di mana pun kecuali mandi. Lebih clingy jauh dari anakku.

      Setiap anak pasti unik ya. Cara penanggapannya juga beda-beda. Kita ngobrol2 aja yuk susah rasanya kalau jabarkan satu-satu di sini. Hihihi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six + seven =